Mencintai Sungai
Oleh: M. Kristiyanto
Tahun ini banyak kota besar di Indonesia dilanda banjir. Banjir yang meluas di Jakarta memaksa 46.614 warga mengungsi. Banjir menggenangi 33 kecamatan setelah hujan lebat selama 12 jam, Jumat (2/2) (Kompas, 3/2). Kalau kita cermati hampir semua kota besar dibelah oleh sungai. Hanya sayang sungai-sungai itu tidak pernah dirawat sehingga ketika musim penghujan tiba tidak mampu menghidarkan kita dari banjir.
Banjir yang terjadi setiap tahun di kota Jakarta, harusnya menjadi bahan refleksi serius. Keunggulan manusia dibandingkan dengan ciptaan yang lain adalah kemampuan berefleksi. Refleksi tidak sama dengan mengkritik. Mengkritik adalah tindakan menimbang dan menilai objek yang ada di luar kita. Refleksi adalah tindakan menimbang dan menilai diri kita sendiri. Kritik yang datang pada kita menjadi bahan untuk menimbang dan menilai diri kita. Beberapa tahun terakhir ini, kalau hati kita masih peka, kita sedang dikritik oleh alam secara bertubi-tubi.
Refleksi juga berlaku bagi pengritik. Mereka juga harus menimbang dan meniali apakah pekerjaan mengkritik itu efektif, berdaya guna dan memberi sumbangan bagi perkembangan keadaan atau justru sebaliknya malahan memperkeruh suasana.
Refleksi dari kedua belah pihak belumlah cukup. Refleksi harus ditindaklanjuti dengan perbuatan nyata. Kita sudah terlalu muak dengan janji kosong, sekarang adalah saat untuk berbuat. Refleksi yang hanya didokumentasikan tidak ada gunanya sama sekali. Nilai plus dari refleksi adalah bahwa rekomendasi hasil refleksi tidak dituntutkan pada orang lain tetapi dituntutkan pada diri sendiri.
Banjir tahunan, sungai yang kotor dan bau, saluran air yang mampet, bau tumpukan sampah dst. merupakan bahasa kritik dari alam agar direfleksikan oleh manusia. Pertanyaannya adalah: siapa yang bertanggung jawab atas semua itu? Jawabanya jelas: manusia! Siapapun yang masih merasa menjadi manusia dan mempunyai hati dan rasa, harus bertanggung jawab.
Howard Clinebell, Ph.D. dalam bukunya Ecotherapy, healing ourselves, healing the earth menawarkan sebuah metode untuk menyelamatkan bumi kita bagi generasi mendatang. Dia menawarkan 3 prinsip transformasi yaitu love (cinta), hope (harapan) dan laughter (humor) (Howard Clinebell, Ph.D, 1996:71-75).
Pertama, kekuatan utama untuk mengubah situasi bumi yang negatif menjadi lebih baik adalah cinta. “The most effective source of motivation and energy for facilitating ecological change in oneself and other does not come from these painful emotions. Rather it is from one’s love of the earth, from generating reality-base hope, and savoring the satisfactions of deepening one’s relationship with the earth and being nurtured it”. Kalau kita ingin menghindarkan banjir, kita harus mencintai air. Mencintai air berarti membiarkan air meresap dalam tanah. Mencintai air merawat sungai, saluran air yang merupakan jalan mereka menuju laut. Air akan menjadi sahabat kalau kita cintai sebagai sahabat, namun akan menjadi musuh kalau kita benci sebagai musuh.
Kedua, harapan selalu menawarkan alternatif pemecahan. Keputus-asaan akan menutup jalan keluar, sebaliknya harapan akan membangkitkan banyak alternatif. “It is hope grounded in some understanding of the steps required to overcome this resistance so that we can move toward helping to resolve the ecological crisis.” Harapan agar anak dan cucu bisa menikmati sungai yang bersih dan indah akan memotivasi kita untuk merawat sungai kita.
Ketiga adalah sense of humor. Ini sebuah terapi untuk menghadapi situasi yang sulit dengan ringan. “The more desperate a situation is, the more important it is for people to have frequent mini-vacation of laughing with other and laughing at the absurdities in situations.” Kita harus mengakui bahwa kita memang biasa hidup tidak tertib dan buang sampah sembarangan. Kita juga sudah biasa melanggar peraturan. Sekarang kita membutuhkan terapi untuk mengubah gaya hidup kita. Buat dan pasang reklame besar di tepi sungai: “Jika tidak ingin banjir, buanglah sampah di sungai”. Orang normal pasti akan tersenyum melihat reklame itu. Dan seandainya orang benar melakukanya, pasti orang yang melihat akan menilai sebagai orang yang bodoh. Kata-katanya memang aneh, namun efektif untuk menyampikan pesan.
Roma, ibu kota Italia, juga dibelah oleh sungai besar, namanya Trastevere. Kalau Anda sempat berkunjung ke Roma, Anda akan langsung menangkap perbedaannya. Sungai yang membelah kota amat dicintai dan dibanggakan orang Roma. Airnya jernih, bersih dan amat terawat. Pada musim penghujan debit airnya naik namun jarang terlihat sepotong sampah pun hanyut di dalamnya. Di sepanjang tepian sungai ditanami pepohonan rindang di musim panas. Diseberang sungai itu berderetan rumah dan apartemen yang menghadap ke sungai. Mereka menjadikan sungai yang bersih, asri dan indah itu halaman depan rumah mereka.
Sebaliknya sungai-sungai yang membelah kota-kota besar kita, airnya selalu kelihatan keruh, hitam dan bau menyengat. Di mana-mana berserakan sampah yang menghambat arus air. Wajar kalau setiap musim penghujan sungai itu meluap. Rumah-rumah kita yang ditepian sungai selalu membelakangi sungai. Kita masih menempatkan sungai di halaman belakang rumah kita, sebagai tempat untuk membuang sampah dan kotoran. Bahkan sudah menjadi gaya hidup membuang limbah rumah tangga ke sungai. Kita masih harus belajar banyak merawat sungai menjadi saluran air yang lancar dan bersih dan mencintainya menjadi halaman depan rumah yang asri dan indah.
Tahun ini banyak kota besar di Indonesia dilanda banjir. Banjir yang meluas di Jakarta memaksa 46.614 warga mengungsi. Banjir menggenangi 33 kecamatan setelah hujan lebat selama 12 jam, Jumat (2/2) (Kompas, 3/2). Kalau kita cermati hampir semua kota besar dibelah oleh sungai. Hanya sayang sungai-sungai itu tidak pernah dirawat sehingga ketika musim penghujan tiba tidak mampu menghidarkan kita dari banjir.
Banjir yang terjadi setiap tahun di kota Jakarta, harusnya menjadi bahan refleksi serius. Keunggulan manusia dibandingkan dengan ciptaan yang lain adalah kemampuan berefleksi. Refleksi tidak sama dengan mengkritik. Mengkritik adalah tindakan menimbang dan menilai objek yang ada di luar kita. Refleksi adalah tindakan menimbang dan menilai diri kita sendiri. Kritik yang datang pada kita menjadi bahan untuk menimbang dan menilai diri kita. Beberapa tahun terakhir ini, kalau hati kita masih peka, kita sedang dikritik oleh alam secara bertubi-tubi.
Refleksi juga berlaku bagi pengritik. Mereka juga harus menimbang dan meniali apakah pekerjaan mengkritik itu efektif, berdaya guna dan memberi sumbangan bagi perkembangan keadaan atau justru sebaliknya malahan memperkeruh suasana.
Refleksi dari kedua belah pihak belumlah cukup. Refleksi harus ditindaklanjuti dengan perbuatan nyata. Kita sudah terlalu muak dengan janji kosong, sekarang adalah saat untuk berbuat. Refleksi yang hanya didokumentasikan tidak ada gunanya sama sekali. Nilai plus dari refleksi adalah bahwa rekomendasi hasil refleksi tidak dituntutkan pada orang lain tetapi dituntutkan pada diri sendiri.
Banjir tahunan, sungai yang kotor dan bau, saluran air yang mampet, bau tumpukan sampah dst. merupakan bahasa kritik dari alam agar direfleksikan oleh manusia. Pertanyaannya adalah: siapa yang bertanggung jawab atas semua itu? Jawabanya jelas: manusia! Siapapun yang masih merasa menjadi manusia dan mempunyai hati dan rasa, harus bertanggung jawab.
Howard Clinebell, Ph.D. dalam bukunya Ecotherapy, healing ourselves, healing the earth menawarkan sebuah metode untuk menyelamatkan bumi kita bagi generasi mendatang. Dia menawarkan 3 prinsip transformasi yaitu love (cinta), hope (harapan) dan laughter (humor) (Howard Clinebell, Ph.D, 1996:71-75).
Pertama, kekuatan utama untuk mengubah situasi bumi yang negatif menjadi lebih baik adalah cinta. “The most effective source of motivation and energy for facilitating ecological change in oneself and other does not come from these painful emotions. Rather it is from one’s love of the earth, from generating reality-base hope, and savoring the satisfactions of deepening one’s relationship with the earth and being nurtured it”. Kalau kita ingin menghindarkan banjir, kita harus mencintai air. Mencintai air berarti membiarkan air meresap dalam tanah. Mencintai air merawat sungai, saluran air yang merupakan jalan mereka menuju laut. Air akan menjadi sahabat kalau kita cintai sebagai sahabat, namun akan menjadi musuh kalau kita benci sebagai musuh.
Kedua, harapan selalu menawarkan alternatif pemecahan. Keputus-asaan akan menutup jalan keluar, sebaliknya harapan akan membangkitkan banyak alternatif. “It is hope grounded in some understanding of the steps required to overcome this resistance so that we can move toward helping to resolve the ecological crisis.” Harapan agar anak dan cucu bisa menikmati sungai yang bersih dan indah akan memotivasi kita untuk merawat sungai kita.
Ketiga adalah sense of humor. Ini sebuah terapi untuk menghadapi situasi yang sulit dengan ringan. “The more desperate a situation is, the more important it is for people to have frequent mini-vacation of laughing with other and laughing at the absurdities in situations.” Kita harus mengakui bahwa kita memang biasa hidup tidak tertib dan buang sampah sembarangan. Kita juga sudah biasa melanggar peraturan. Sekarang kita membutuhkan terapi untuk mengubah gaya hidup kita. Buat dan pasang reklame besar di tepi sungai: “Jika tidak ingin banjir, buanglah sampah di sungai”. Orang normal pasti akan tersenyum melihat reklame itu. Dan seandainya orang benar melakukanya, pasti orang yang melihat akan menilai sebagai orang yang bodoh. Kata-katanya memang aneh, namun efektif untuk menyampikan pesan.
Roma, ibu kota Italia, juga dibelah oleh sungai besar, namanya Trastevere. Kalau Anda sempat berkunjung ke Roma, Anda akan langsung menangkap perbedaannya. Sungai yang membelah kota amat dicintai dan dibanggakan orang Roma. Airnya jernih, bersih dan amat terawat. Pada musim penghujan debit airnya naik namun jarang terlihat sepotong sampah pun hanyut di dalamnya. Di sepanjang tepian sungai ditanami pepohonan rindang di musim panas. Diseberang sungai itu berderetan rumah dan apartemen yang menghadap ke sungai. Mereka menjadikan sungai yang bersih, asri dan indah itu halaman depan rumah mereka.
Sebaliknya sungai-sungai yang membelah kota-kota besar kita, airnya selalu kelihatan keruh, hitam dan bau menyengat. Di mana-mana berserakan sampah yang menghambat arus air. Wajar kalau setiap musim penghujan sungai itu meluap. Rumah-rumah kita yang ditepian sungai selalu membelakangi sungai. Kita masih menempatkan sungai di halaman belakang rumah kita, sebagai tempat untuk membuang sampah dan kotoran. Bahkan sudah menjadi gaya hidup membuang limbah rumah tangga ke sungai. Kita masih harus belajar banyak merawat sungai menjadi saluran air yang lancar dan bersih dan mencintainya menjadi halaman depan rumah yang asri dan indah.

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda